SinarPost.com – Sebuah pesawat pembom nuklir B-52 Stratofortress milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) dilaporkan jatuh di sekitar Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California. Insiden ini terjadi pada Senin (15/6/2026) waktu setempat.
Pesawat pembom strategis yang mampu membawa hulu ledak nuklir tersebut jatuh tak lama setelah lepas landas. Pesawat itu membawa delapan orang dalam misi uji rutin, demikian pernyataan dari pangkalan sebagaimana dilansir Russia Today (RT.com).
“Indikasi awal menunjukkan bahwa kecelakaan itu tidak dapat diselamatkan,” bunyi pernyataan otoritas pangkalan, yang mengindikasikan bahwa kedelapan personel yang ada di dalam pesawat tersebut tewas.
Lapangan terbang itu telah ditutup sementara menyusul insiden tersebut dan semua pesawat yang akan mendarat telah dialihkan, kata pihak pangkalan dalam pernyataan lanjutan.
“Semua izin kunjungan non-komersial telah ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut untuk memungkinkan instalasi tersebut fokus sepenuhnya pada operasi tanggap darurat,” tambahnya.
Pesawat itu terbakar saat benturan. Rekaman yang beredar online menunjukkan kepulan asap besar membumbung ke langit. Pesawat itu hancur total dalam kecelakaan dan kebakaran yang terjadi kemudian.
Diperkenalkan pada tahun 1955 sebagai pembawa bom nuklir jatuh bebas, dan telah mengalami banyak peningkatan selama beberapa dekade, B-52 tetap menjadi salah satu pesawat yang paling lama beroperasi di armada AS.
Militer AS diyakini memiliki lebih dari 70 pesawat B-52H yang telah ditingkatkan dan masih beroperasi, termasuk hampir 60 di unit aktif.
Pesawat-pesawat ini telah digunakan dalam berbagai konflik bersenjata, dengan yang terbaru adalah saat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 februari 2026 lalu.
Pada Senin pagi, sebuah pesawat supersonik Tu-22M3 Rusia yang mampu membawa senjata nuklir juga jatuh di wilayah Irkutsk di Siberia tenggara selama penerbangan latihan.
Pesawat pembom itu jatuh di area terbuka tanpa kerusakan material atau korban jiwa di darat, sementara awaknya berhasil melontarkan diri dengan selamat, kata Kementerian Pertahanan Rusia.





