SinarPost.com, Banda Aceh – Kota Banda Aceh kerap dijuluki sebagai Kota Seribu Warung Kopi. Hal ini tidak lepas dari berjejernya warung kopi yang dapat ditemuai di setiap sudut kota baik yang bergaya klasik dan modern, yang model terbuka hingga bernuansa VIP. Geliat bisnis kopi ini terus tumbuh setiap tahunnya sehingga tidak heran banyak wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh begitu terpikat dengan nuansa kopi Tanah Rencong.
Bisnis warung kopi yang diprakarsai oleh para pelaku usaha kopi ini tak hanya tumbuh sebagai sektor ekonomi lokal, tetapi juga menjadi bagian penting dari wisata kuliner di Banda Aceh. Tidak berlebihan jika kita menilai bahwa UMKM yang berkaitan bisnis kopi telah berhasil membranding Kota Banda Aceh hingga ke seantero nusantara dan bahkan dunia sebagai kota wisata kuliner dengan budaya kopi yang fenomenal.
Salah satu pelaku UMKM yang sukses membranding Kota Banda Aceh sebagai produk kuliner kopi adalah Ns. Muhammad Iqbal, S.Keb, yang merupakan Owner Aqilla Coffee Rostery. Ia mengolah/memproduksi bubuk kopi jenis Arabika Gayo tidak hanya untuk pelanggan di warungnya, tapi juga melayani pesanan pelanggan dari berbagai daerah.
Aqilla Coffee Roastery yang terletak di kawasan Ulee Kareng, telah menjelma sebagai salah satu brand kopi di Banda Aceh yang tidak hanya diminati oleh para pecinta kopi lokal tapi juga wisatawan. Tidak hanya dipasarkan di Aceh, tapi juga ke berbagai daerah di Indonesia, hingga Kuala Lumpur, Malaysia.
Dari Swalayan ke Bisnis Kopi
Kepada media ini, Kamis (14/5/2026), Iqbal mengisahkan bahwa bisnis yang dijalankannya itu bukanlah sebuah warisan, melainkan usaha yang dirintis dari nol. Berawal dari sekedar menikmati hingga menjelma menjadi sebuah bisnis kopi yang mengantar namanya sebagai salah satu pengusaha kopi sukses di Kota Banda Aceh.
Awalnya Iqbal menjalankan usaha bisnis swalayan pada tahun 2026. Saat bisnisnya sudah maju, cobaan datang akhir tahun 2019 ketika Covid-19 datang, yang membuat usahanya meredup secara perlahan. Di sini lah mula terjadi penurunan penjualan. Baginya, wabah Covid-19, bak mata pisau, di satu sisi merenggut usaha kelontong yang telah dibangunnya, di sisi lain membuka peluang yang mengantarnya sukses besar.
“Saat covid, pelanggan kan sepi, begitu juga dengan warung kopi yang terbatas aksesnya, sementara budaya masyarakat kopi tidak bisa hilang. Nah, di sini lah saya mulai mencoba kesempatan untuk bisnis kopi, saya berinisiatif memesan mesin kopi kecil, jadi sambil bisnis swalayan juga tersedia kopi bagi pelanggan yang ingin memesan kopi,” ungkap pria lulusan sarjana kebidanan itu.
Saat itu, usahanya campur aduk antara bisnis swalayan dan kopi. Sekitar akhir tahun 2020 ia membulatkan tekad untuk terjun ke bisnis kopi, memilihi menjual aset swalayan, dan fokus sepenuhnya ke bisnis kopi Arabika Gayo. Awalnya, memesan bubuk kopi di tempat lain untuk dijual baik dalam bentuk minuman maupun bubuk kemasan.
Ketika bisnis kopi mulai menggeliat, tahun 2021 ia membeli mesin roasting koping miliknya sendiri. “Jadi tahun 2021 adalah awal kita fokus pada penjualan bubuk kopi, dan saat itu kita pasarkan ke warung-warung yang membutuhkan biji kopi, kita cari tempat-tempat yang mau menerima bubuk kopi yang kita roasting,” ujarnya.
Saat peminat produk kopinya semakin dikenal luas, saat itu juga ia memperkuat dengan promosi lewat media massa, WhastApp, hingga berbagai media sosial seperti Instagram, Facebook, hingga TikTok,” pungkasnya.

Dibalik suksesnya sebuah bisnis tentuk tidak lepas dari namanya usaha dan kerja keras, mulai dari membangun keyakinan, melahirkan sebuah pruduk, melakukan branding, hingga pengurusan legalitas baik dalam bentuk nomor induk berusaha, sertifikasi halal, hingga pengurusan hak paten.
Dan hal-hal tersebutlah yang membuat Aqilla Coffee Roastery mencapai kesuksesan. Pada tahun-tahun pertama membangun bisnis, Muhammad Iqbal, tidak hanya memantapkan keyakinan dan branding produk melalui media massa dan media sosial, tapi juga memacu dalam pengurusan legalitas.
Lewat ketekunan dan keyakinan, Aqilla Coffee Roastery, yang awalnya hanya sebua UMKM kecil, kini sukses naik kelas menjadi produsen bubuk kopi yang tidak hanya dikenal secara lokal, tapi juga Indonesia, bahkan luar negeri.
“Alhamdulillah, usaha kita bangun ini bisa dibilang sudah jadi UMKM yang naik kelas, dari mulanya usaha kecil yang hanya menjual minuman kopi, kini sudah memiliki produk bubuk kopi sendiri yang pelanggannya tidak hanya di Aceh tapi juga tersebar ke berbagai daerah di Indonesia. Dan juga sudah memiliki pelanggan tetap di Kuala Lumpur, Malaysia,” ungkapnya.
Saat ini, katanya, brand bubuk kopi Aqilla Coffee Roastery juga sudah memiliki hak paten, dan kini dalam proses pengurusan SNI (Standar Nasional Indonesia). “Kalau legalitas NIB dan sertifikat halal sejak awal kita sudah mengurusnya, begitu juga hak paten. Sekarang yang sedang kita persiapkan adalah pengurusan SNI,” ucapnya.
Punya Pelanggan Nasional dan Luar Negeri
Dengan memiliki legalitas dan sertifikasi halal, produk bubuk kopi Aqilla Coffee Roastery kini tidak hanya mendapat kepercaya dari masayarakat Aceh khususnya warga Kota Banda Aceh, tapi juga sudah memiliki pasar sendiri di seluruh Indonesia, mulai dari Medan, Jakarta, hingga berbagai daerah lainnya di Nusantara. Bahkan produk bubuk kopi Aqilla Coffee Roastery juga sudah punya pelanggan tetap di luar negeri, yakni Malaysia.
“Alhamdulillah saat ini produk Aqilla Coffee Roastery sudah kita pasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Kota Medan, Jakarta, dan lain sebagainya. Kita juga memasok ke pelanggan tetap di Kuala Lumpur, Malaysia,” ungkapnya.

Saat ini Aqilla Coffee Roastery mampu memproduksi sekitar satu ton biji kopi setiap bulannya, dengan omset hingga puluhan juta. Untuk bahan baku, Aqilla Coffee Roastery mengangkat kopi Arabika Gayo sebagai produk unggulannya. Harganya bervariasi, mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu, tergantung merk dan kemasannya.
“Saat ini kita memproduksi sekitar satu ton biji kopi setiap bulannya. Omset kotor bisa puluhan juta perbulannya. Untuk karyawan, saat ini kita punya empat orang karyawan, satu orang yang pegang roasting kopi, satu orang barista, satu petugas packing (pengemas) produk, dan satu lagi sebagai waiter (pelayan),” bebernya.
Minta Pemerintah Perbanyak Event Nasional
Owner Aqilla Coffee Rostery, Ns. Muhammad Iqbal, S.Keb, tidak menampik bahwa semakin banyak event berskala nasional yang diadakan di Banda Aceh maka akan semakin membangkitkan gairah sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Untuk itu, Iqbal berharap akan ada banyak event berskala provinsi dan nasional yang dilaksanakan di Kota Banda Aceh.
Ikbal mengungkapkan bahwa kopi adalah salah satu sektor bisnis yang menjanjikan. Selain digemari oleh masyarakat lokal juga digemari oleh para wisatawan. Para pelancong dari luar, selain merasakan sensasi ngopi langsung juga menjadikan kopi sebagai salah satu oleh-oleh utama untuk dibawa pulang dari Kota Banda Aceh.
Iqbal mencontohkan saat pelaksanaan PON di Aceh pada September 2024 lalu, dimana banyak atlet, tim official, dan wisatawan yang berburu kopi di warungnya sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang. Sementara pada hari-hari biasanya, banyak juga wisatawan yang datang membeli kopi namun tidak seramai saat pelaksanaan PON yang datang bersamaan dari seluruh Indonesia.
“Kami melihat kopi telah menjadi bagian dari sektor pariwisata di Banda Aceh. Banyak wisatawan yang berkunjung seakan belum sempurna kalau tidak ngopi di warung-warung kopi legendaris. Juga rasanya tidak sempurna kalau tidak membawa pulang kopi sebagai oleh-oleh dari Banda Aceh,” demikian pungkas Iqbal. (Adv)





