‎Disbudpar: Pengembangan Ekraf Pilar Penting Wujudkan Visi Aceh Kreatif

SinarPist.com, Banda Aceh – Bootcamp Akselerasi Fesyen Muslim Indonesia kembali digelar di Aceh, tepatnya di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh. Kegiatan yang digagas untuk mengangkat subsektor ekonomi kreatif Industri Fesyen Muslim Aceh ke kancah nasional ini dibuka oleh Direktur Fesyen Deputi Bidang Kreatifitas, Budaya, dan Desain Kemenkraf RI, Romi Astuti, Selasa (25/11/2025).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh yang berpose Sekretaris Disbudpar, Herly Marlina, menyampaikan penghargaan yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan Bootcamp Akselerasi Fesyen Muslim Indonesia di Banda Aceh.

Read More

Ia menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif merupakan pilar penting dalam mewujudkan visi Aceh Kreatif, yang fokus pada kemandirian ekonomi berbasis potensi unggulan daerah.

Herly menyebut bahwa industri fesyen—bersama kuliner dan kriya—merupakan tiga subsektor yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) sebagai penyumbang ekspor terbesar.


Pemerintah Provinsi Aceh, katanya, berkomitmen penuh mendorong ekosistem kreatif melalui berbagai program, mulai dari pelatihan, ekspo, hingga Aceh Business Fashion Festival yang telah digelar sejak 2022 dan bahkan dipresentasikan di Sarinah Mall Jakarta pada tahun 2024.

Kami berharap produk fesyen Aceh tidak hanya berhenti di pasar nasional, tetapi mampu bersaing di tingkat global,” pungkas Herly, sekaligus menyampaikan penghargaan atas kepentingan Aceh sebagai salah satu dari 15 pengembangan prioritas provinsi ekonomi kreatif nasional oleh Kemenparekraf/Bekraf.

Smentara Direktur Fesyen Deputi Bidang Kreatifitas, Budaya, dan Desain Kemenkraf RI, Romi Astuti mengatakan bahwa sektor fesyen telah menjadi kontributor terbesar kedua dalam Global Islamic Economy (GIE) tahun 2024–2025.

Angka ini menyatakan bahwa fesyen muslim melampaui sekadar tren; ia adalah representasi nyata dari nilai budaya, spiritualitas, kreativitas, dan identitas masyarakat muslim dunia.

Fesyen muslim adalah cerminan nilai kesempatan, identitas budaya, dan ekspresi kreatif. Inilah potensi yang harus kita gerakkan bersama,” tegasnya, yang secara khusus menyoroti tantangan krusial dalam dunia produksi, yaitu aspek kontrol kualitas (quality control).

Menurutnya, banyak pelaku usaha yang berhasil mendapatkan pesanan awal yang baik, tetapi kesulitan mempertahankan standar kualitas saat volume pesanan meningkat. Ia menekankan bahwa konsistensi dan profesionalisme adalah kunci utama agar produk fesyen lokal mampu bersaing secara berkelanjutan di pasar global.

Lebih lanjut, Romi menilai Aceh memiliki keunggulan komparatif yang strategis. Keistimewaan Aceh sebagai daerah syariah, didukung oleh budaya lokal yang kuat dan kekayaan wastra daerah, menjadi modal besar untuk mentransformasi Aceh menjadi pusat tren (trend center) fesyen muslim Indonesia.

Jika nasional ingin belanja fesyen muslim, datanglah ke Aceh. Kita berharap Aceh tidak hanya menjadi pusat mode, tapi juga mampu tampil sebagai trendsetter fesyen muslim dunia,” ujarnya penuh optimisme.

Bootcamp kali ini diikuti oleh 10 brand lokal terpilih yang akan menjalani proses kuras dan peningkatan kapasitas. Tujuannya adalah mengarahkan produk-produk tersebut agar memiliki nilai tambah, seperti kualitas tinggi, prinsip berkelanjutan, dan tetap terjangkau bagi masyarakat luas. (Adv)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *