Makam Syiah Kuala, Destinasi Wisata Religi di Pinggir Pantai Kota Banda Aceh

Komplek Makam Syiah Kuala, Banda Aceh.

SinarPost.com, Banda Aceh – Jika anda sedang mencari destinasi yang memadukan wisata religi, sejarah, sekaligus pantai di Kota Banda Aceh, maka Makam Syiah Kuala adalah tempat yang wajib dikunjungi. Tempat ini tidak hanya menyuguhkan nilai-nilai sejarah yang kental dengan nuansa Islam-nya, tapi juga panorama laut dengan lanskap Pulau Sabang dan Pulau Aceh di depannya.

Makam Syiah Kuala merupakan Situs Cagar Budaya yang terletak di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Makam ulama besar Aceh yang hidup dan wafat pada masa Kesultanan Aceh Darussalam ini hanya berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh.

Read More

Makam ini tidak hanya menjadi saksi sejarah peradaban Islam di Aceh, tetapi juga menjadi tujuan ziarah dan wisata religi para wisatawan dari dalam maupun luar daerah. Tempat ini adalah sebuah destinasi istimewa yang memadukan nilai sejarah, keislaman, dan keindahan panorama pantai yang memukau.

Syiah Kuala yang memiliki nama lengkap Syekh Abdul Rauf bin Ali Al-Fansuri As-Singkili merupakan seorang ulama besar era Kesultanan Aceh Darussalam. Ia lahir pada tahun 1001 Hijriah/1591 Masehi dan wafat pada hari Senin 23 Syawal 1106 Hijriah/1696 Masehi dalam usia 105 tahun.

Syiah Kuala menjabat Kadhi Malikul Adil pada masa Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinan empat ratu, yaitu Ratu Safiatuddin Syah (1641-1675 M), Ratu Naqiatuddin Syah (1675-1678 M), Ratu Zakiatuddin Syah (1678-1688 M), dan Ratu Kamalat Syah (1688-1699).

Pada masa kepemimpinan keempat ratu tersebut, hakikatnya yang memegang kendali Pemerintahan Kesultanan Aceh adalah para ulama dan Syekh Abdul Rauf As-Singkili adalah sosok pengambil keputusan di kalangan para ulama sebelum disampaikan pada pemimpin tertinggi.

Syekh Abdul Rauf As-Singkili bukan hanya seorang mufti, tapi juga seorang penulis kitab yang sangat produktif. Diantara karyanya adalah Mir’at al-Thullab fî Tasyil Mawa’iz al-Badî’rifat al-Ahkâm al-Syar’iyyah li Malik al-Wahhab. Kemudian, Tarjuman al-Mustafid yang merupakan naskah pertama berbahasa Melayu yang lengkap dari tafsir Al-Quran.

Nama Syiah Kuala telah lama tercatat dalam lembaran sejarah Aceh sebagai salah satu ulama terkemuka yang memiliki peran besar dalam penyebaran ajaran Islam serta pengembangan ilmu pengetahuan di wilayah berjuluk Serambi Mekkah ini.

Hidup pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, beliau dikenal sebagai sosok yang alim, bijaksana, dan menjadi penasihat kepercayaan para penguasa saat itu. Jasa-jasanya dalam membimbing masyarakat, memperkuat akidah, serta menjaga kedamaian wilayah menjadikan namanya tetap harum dikenang hingga berabad-abad kemudian.

Makam Syiah Kuala Selamat dari Hantaman Tsunami

Makam Syiah Kuala bisa dibilang adalah satu diantara keajaiban ketika Aceh dilanda bencana dahsyat bernama tsunami pada tahun 2024 silam. Pusara komplek makam ini selamat dari amukan gelombang tsunami, namun sayangnya banyak sekali kitab-kitab karya Syeikh Abdul Rauf yang tersimpan di tempat itu hanyut dibawa arus gelombang.

Menurut cerita warga setempat, sebelum tsunami jarak makam ke bibir pantai sekitar 1 kilometer. Namun akibat tsunami, tanah-tanah di sekitar makam tergerus hingga menjadi lautan dan kini antara makam dengan bibir pantai hanya berjarak sekitar 200 meter saja.

Pengunjung yang ingin berziarah ke Makam Syiah Kuala kini bisa langsung menikmati panorama laut dari pagar komplek makam tersebut. Ya, begitu sampai di lokasi makam, anda akan disambut suasana yang sejuk, asri, dan sangat tenang. Berada tepat di tepi pantai, angin laut yang berhembus lembut membawa kesegaran tersendiri, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota.

Makam Syiah Kuala diantara makam-makam para muridnya.

Bagi anda yang suka main pasir dan mandi pantai, setelah selesai kegiatan ziarah, bisa langsung ke pantai tanpa harus melakukan perjalanan menggunakan kendaraan. Anda hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk ke pantai yang setiap sorenya, terutama hari libur selalu ramai dipadati warga lokal dan wisatawan.

Kompleks makam Syiah Kuala benar-benar memberikan kesan dan ketenangan bagi setiap pengunjung. Terlebih pengelolaan makam ini tergolong baik, tempatnya terawat, bersih dan tertib. Komplek makam ini juga dilengkapi fasilitas yang memadai seperti tempat parkir luas, mushala, kamar mandi, serta area istirahat yang nyaman bagi para peziarah dan wisatawan.

Pengunjung juga diizinkan mengadakan kenduri kecil-kecilan disini untuk keperluan makan dan kebersamaan. Ada dapur dan perlengkapannya yang tersedia, tinggal anda berkomunikasi dengan pengelola. Juga ada beberapa balai (tempat istirahat) yang besar untuk menampung para peziarah atau pengunjung.

Sekedar informasi, tempat ini bukan hanya terdapat makam tunggal Syiah Kuala. Di sekitar makam utama terdapat juga makam keluarga dan murid-murid beliau, membentuk satu kesatuan tempat bersejarah yang menjaga jejak perjuangan para pendahulu. Bagi para peziarah, tempat ini bukan sekadar tempat berkunjung, melainkan ruang untuk bermunajat, mendoakan sang ulama, sekaligus mengambil teladan dari akhlak dan perjuangannya dalam menegakkan kebenaran dan syariat Islam di Aceh era Kesultanan Aceh Darussalam.

Pantai Syiah Kuala, tepat berada di pinggir pagar komplek makam.

Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengajak wisatawan yang berkunjung ke Aceh khususnya Kota Banda Aceh untuk menyempatkan waktu berziarah ke makam ulama besar Aceh ini. Ia menyampaikan, Makam Syiah Kuala tidak hanya dikenal sebagai tempat ziarah, tapi juga sebagai pusat pembelajaran tentang peran ulama dalam membangun peradaban Aceh.

“Makam Syiah Kuala adalah destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan di Banda Aceh. Karena tempat ini adalah destinasi yang menawarkan wisata religi, nilai sejarah, dan alam. Keberadaannya di tepi pantai tentu menjadi daya tarik tersendiri, di mana pengunjung bisa berziarah sekaligus menikmati keindahan alam (pantai) Kota Banda Aceh,” ujar Aidil.

“Setelah melaksanakan ziarah, para pengunjung dapat bersantai menikmati deburan ombak dan pemandangan laut yang luas dari atas tanggul pemecah ombak. Pengunjung yang mau main pantai dan mandi laut juga bisa, karena pantai Syiah Kuala selalu ramai dikunjungi warga lokal dan wisatawan setiap sorenya. Banyak wisatawan yang tidak mau melewatkan kesempatan mandi laut di tempat ini. Jadi wisatawan yang berkunjung ke Banda Aceh jangan melewatkan kesempatan berkunjung ke Makam Syiah Kuala,” pungkasnya. (Adv)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *