Trump Inginkan Diplomasi dengan Iran Setelah Ancaman Perang Tidak Menggoyahkan Teheran

Foto : Ilustrasi.

SinarPost.com – Retorika ancaman perang yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Republik Islam Iran dalam beberapa minggu terakhir tidak membuat Teheran goyah. Pengerahan armada perang AS dalam skala besar ke Timur Tengah disambut pemimpin Iran dengan menyiagakan ribuan drone, rudal balistik, kapal perang hingga kapal selam dengan jari dipelatuk, yang mengisyaratkan kesiapan militer Iran untuk meladeni serangan AS.

Namun setelah beberapa hari Trump sesumbar ingin melenyapkan rezim pemimpin Iran dengan serangan besar-besaran, kini tampaknya nyali Donald Trump mulai ciut dengan kesiapan akan serangan balasan dari militer Iran.

Alih-alih melakukan serangan, Trump saat ini mulai mengajak pemimpin Iran untuk bernegosiasi. Pemerintahan Trump dilaporkan telah memberi tahu Iran melalui berbagai saluran bahwa mereka terbuka untuk negosiasi.

Ajakan diplomasi tersebut terkuak setelah seorang pejabat senior AS mengkonfirmasi kepada Axios. Turki, Mesir, dan Qatar yang menjadi perantara sedang mengatur pertemuan antara utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan pejabat senior Iran di Ankara minggu ini, dua sumber regional mengatakan kepada Axios.

“Ini berjalan. Kami melakukan yang terbaik,” kata seorang pejabat dari salah satu negara mediator, sebagaimana dilansir Al-Mayadeen, Minggu (1/2/2026).

Seorang pejabat AS kedua mengkonfirmasi bahwa pertemuan antara AS dan Iran dapat berlangsung minggu ini di Turki. Upaya diplomatik ini bertepatan dengan pembicaraan Pentagon pada hari Jumat dan Sabtu antara Jenderal AS Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan, dan kepala pasukan pendudukan Israel Eyal Zamir, Reuters melaporkan.

Kunjungan yang tidak terlalu mencolok ini, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, berfokus pada saling memberi pengarahan tentang rencana pertahanan dan serangan jika terjadi perang terhadap Iran, menurut pejabat AS dan Israel.

Mediator Regional Kordinasikan Dialog 

Tiga negara yang menjadi perantara kesepakatan gencatan senjata Gaza, Qatar, Mesir, dan Turki, dilaporkan telah mengoordinasikan upaya mereka untuk mencegah perang antara AS dan Iran yang dikhawatirkan dapat menjadi perang regional.

Perdana Menteri Qatar mengunjungi Teheran pada Sabtu (31/1/2026), bertemu dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani, di Teheran. Setelah pertemuan tersebut, Larijani memposting di X bahwa pembentukan “kerangka kerja untuk negosiasi” sedang berlangsung.

Selain itu, Presiden Mesir el-Sisi dilaporkan mendesak Presiden Iran Pezeshkian melalui telepon untuk bertemu dengan utusan Trump, sementara Menteri Luar Negeri Turki Fidan menjamu Araghchi dari Iran sehari sebelumnya untuk membahas kemungkinan tempat dan agenda untuk pertemuan potensial dengan pejabat Gedung Putih.

Araghchi mengatakan kepada CNN pada hari Minggu bahwa “negara-negara sahabat” sedang berupaya membangun kepercayaan antara AS dan Iran, menyebut upaya-upaya ini “berbuah”.

Namun, ia menyatakan optimisme yang hati-hati mengenai apakah Washington akan mengejar “kesepakatan yang adil dan merata untuk memastikan tidak ada senjata nuklir.” Araghchi mengakui Iran telah “kehilangan kepercayaan pada AS sebagai mitra negosiasi” tetapi mengatakan komunikasi tidak langsung melalui perantara regional telah terbukti produktif.

Ia bersikeras agar diskusi hanya berfokus pada masalah nuklir:  “Jangan membicarakan hal-hal yang mustahil dan jangan sampai kehilangan kesempatan untuk mencapai kesepakatan yang adil dan merata untuk memastikan tidak ada senjata nuklir,” kata Araghchi seraya menambahkan bahwa kesepakatan seperti itu “dapat dicapai bahkan dalam waktu singkat.”

Pemimpin AS dan Iran Saling Berbalas Ancaman 

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, mengeluarkan pesan bernada dingin setelah pemimpin Iran memperingatkan akan konflik yang lebih luas jika Washington menyerang. Trump mengatakan “semoga” AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran.

“Kita memiliki kapal-kapal terbesar dan terkuat di dunia di sana, sangat dekat, beberapa hari lagi,” ujarnya yang mengisyaratkan armada kapal perang yang terus dikerahkan ke Timur Tengah siap bereaksi terhadap Iran.

“Semoga kita akan mencapai kesepakatan. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan mengetahui apakah dia benar atau tidak,” kata Trump, ketika ditanya oleh wartawan tentang tanggapannya terhadap pernyataan Sayyed Ali Khamenei.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada wartawan di atas Air Force One pada Sabtu malam bahwa Iran “serius berbicara dengan kita,” menambahkan, “Saya harap mereka menegosiasikan sesuatu yang dapat diterima…”

“Mereka dapat menegosiasikan kesepakatan yang memuaskan, tanpa senjata nuklir, dll. Mereka harus melakukannya. Saya tidak tahu apakah mereka akan melakukannya. Tetapi mereka berbicara dengan kita. Serius berbicara dengan kita.”

Menurut Axios, pejabat Gedung Putih mengatakan Trump belum membuat keputusan akhir tentang serangan dan tetap terbuka untuk solusi diplomatik. Meskipun demikian, pemimpin tertinggi Iran Sayyed Ali Khamenei menunjukkan sikap menantang pada hari Minggu, mengklaim Washington ingin “menelan” Iran dan merebut minyak, gas, dan mineralnya.

“Amerika harus tahu jika mereka memulai perang, kali ini akan menjadi perang regional,” ia memperingatkan, tanpa menyebutkan negosiasi. Para pejabat Iran memperingatkan bahwa pangkalan-pangkalan AS di seluruh wilayah akan menjadi sasaran jika AS menyerang.

Ali Shamkhani, penasihat Sayyed Khamenei, mengatakan kepada Al-Mayadeen pada hari Jumat bahwa “setiap tindakan yang mencerminkan niat bermusuhan oleh musuh akan dibalas dengan respons yang proporsional, efektif, dan bersifat jera.”

Sumber : Al-Mayadeen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *