Sekutu Amerika Mulai Khawatir Keterbatasan Pasokan Senjata Akibat Perang dengan Iran

Radar sistem pertahanan udara THAAD Amerika Serikat seharga Rp5 triliun di Yordania hancur seteah dihantam rudal Iran beberapa hari lalu.

SinarPost.com – Perang gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Republik Islam Iran telah membuat kepanikan diantara sekutu Washington di Eropa dan Asia Timur.

Pasalnya Iran bukanlah negara yang mudah ditaklukkan dan berpotensi menyeret Washington dan Tel Aviv dalam perang panjang yang tidak hanya menghancurkan Iran tapi juga Israel dan aset-aset AS di seluruh kawasan Timur Tengah

Di tengan invasi AS ke Iran ternyata juga mengungkap keterbatasn pasokan senjata AS ke negara-negara sekutunya di Eropa dan Asia Timur yang berhadapan langsung dengan Rusia, China, dan Korea Utara.

Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa sekutu AS di Eropa dan Asia khawatir perang melawan Iran akan membuat mereka kehilangan senjata AS yang telah mereka beli. 

AS telah meminta secara khusus kepada Taiwan dan Korea Selatan agar bersedia memberikan sistem pertahan udara canggih Patriot dan THAAD dikirim dulu ke Israel dan negara-negara kawasan teluk untuk menghalau serangan rudal Iran. Namun sejauh ini dilaporkan hanya Taiwan yang telah beresdia.

Di sisi lain, permintaan Washington ini juga membuka tabir bahwa AS kewalahan dan mulai kekurangan amunisi dalam melawan rudal dan drone Iran.

Pakar militer Rusia, Alexander Stepanov, mengungkap bahwa perang AS-Israel terhadap Iran yang belum terlihat adanya tanda-tanda akan segera berakhir telah membuat sekutu Washington sangat khawatir tentang kekurangan “senjata-senjata penting,” termasuk sistem pertahanan udara dan rudal canggih.

Dalam wawancaranya dengan Sputnik, Stepanov mengatakan AS memiliki masalah citra “yang semakin terlihat oleh pengguna dan calon pembeli produk militer Amerika.”

Rudal permukaan-ke-udara seperti Patriot “sebelumnya dianggap sangat efektif” tetapi “gagal menunjukkan keandalannya selama konflik Ukraina,” ungkapnya.

Sekarang juga menunjukkan hal serupa dalam perang dengan Iran, di mana pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh negara Timur Tengah mampu dihancurkan Iran. AS juga gagal melindungi Israel dari gempuran rudal Iran meski telah dilindungi sistem pertahan udara berlapis.

“Sebagian besar fasilitas penting yang seharusnya mereka lindungi tidak mampu bertahan,” kata Stepanov. “Ketika sebuah baterai berharga satu miliar dolar dan gagal memenuhi tugasnya, ini menimbulkan keraguan,” sebutnya.

Masalah lain bagi AS saat itu adalah “tindakan asimetris Iran dalam ekonomi perang yang merusak pendekatan sebelumnya untuk membanjiri negara-negara Eropa dengan sistem senjata Amerika yang mahal.”

Industri persenjataan AS memiliki tingkat produksi yang terbatas, memaksanya “untuk memilih antara melanjutkan kampanye militer atau memenuhi kewajiban kontraktual,” termasuk pasokan rudal Patriot ke anggota NATO dan Ukraina, yang memberikan “beban tambahan” pada pemasok.

Stepanov mengatakan bahwa negara-negara Eropa tidak sepenuhnya mandiri dalam teknologi dan sangat terikat dengan produsen senjata AS, sehingga mereka bergantung pada rudal seperti Patriot buatan Raytheon dan peluncur artileri roket HIMARS buatan Lockheed Martin.

“Keterbatasan kapasitas produksi memengaruhi kemampuan Eropa untuk menggunakan senjata dalam konflik regional lainnya, melemahkan tindakan mereka terhadap Rusia,” kata Stepanov. “Konflik yang sedang berlangsung dapat mempercepat menjauhnya Eropa dan sekutu lainnya dari AS dalam hal pertahanan dan persenjataan, yang mengarah pada persepsi bahwa AS tidak dapat diandalkan dan kebutuhan akan sistem keamanan nasional yang lebih kuat.”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *