Ninano, Brand Hijah dari Aceh yang Identik dengan Motif Etnik Nusantara

SinarPost.com – Pada tahun 2021, di saat banyak orang kehilangan arah akibat pandemi, Akieno dan istrinya, Nina, justru menemukan jalan baru. Berawal dari aktivitas yang serba terbatas karena Covid-19, mereka menyalakan kembali mimpi lama, mendirikan bisnis sendiri. Dari situlah Ninano Hijab lahir nama yang sederhana, perpaduan nama mereka berdua, Nina dan Akieno.

“Saat itu kan orang nggak bisa kemana-mana, semuanya ke handphone. Jadi kami berpikir, apa yang bisa dibuat dari rumah, dipasarkan lewat handphone, dan orang butuh,” kata Akieno, mengenang masa-masa awal.

Read More

Mereka lalu menemukan celah di pasar hijab. Nina, sang istri, sering mengeluhkan hijab di pasaran yang motifnya monoton, mirip satu sama lain, dan harganya kelewat mahal untuk kualitas bahan yang sama. Mereka yakin, kualitas dan motif bisa dikombinasikan tanpa harus membuat dompet pembeli menjerit.

Bermodal ide sederhana dan riset kecil-kecilan, mereka pun memulai produksi. Nina mendesain motif pertama sesuai seleranya. Ternyata, motif itulah yang kemudian disukai banyak orang. Mereka menjualnya secara online, memanfaatkan Instagram, Shopee, dan WhatsApp.

“Kenapa Shopee? Karena semua aktivitas orang saat Covid kan berubah ke online. Dan Alhamdulillah momennya pas sekali. Dan itu sangat diterima oleh orang banyak,” kata Akieno.

Hijab Ninano identik dengan motif-motif etnik Nusantara. Songket Aceh, songket Minang, batik Jawa, hingga motif-motif abstrak yang tetap kental nuansa budaya. Menurut Akieno, motif-motif etnik punya pasar loyal. Banyak pembeli yang memakai hijab Ninano sebagai alternatif batik.

“Kadang ada acara mendadak wajib batik, tinggal pakai hijab motif batik. Lebih praktis, nggak perlu beli baju batik baru. Cukup baju polos, hijabnya sudah mewakili,” ujarnya.

Yang menarik, perjalanan Ninano benar-benar dimulai dari sebuah kamar kosong di rumahnya di Padang yang tidak terpakai. Penjualan Ninano awalnya hanya online. Namun seiring permintaan meningkat, Akieno memutuskan membuka toko fisik.

“Dari ruang kosong itu akhirnya kami membangun untuk orang datang berkunjung. Sebagai wujudnya brand ini bukan hanya online aja. Jadi orang bisa lihat, bisa langsung kunjungi, bisa langsung lihat tokonya,” kata Akieno.

Penjualan offline pertama brand Ninano di Aceh pada 2023 di Plaza Aceh. “Kami pertama buka offline di Plaza Aceh, pas Ramadan 2023. Waktu itu momennya pas, pengunjung ramai,” jelasnya.

Kini, toko di Padang hadir untuk mendekatkan Ninano ke konsumen yang lebih nyaman belanja langsung. Akieno mengakui, masih banyak orang yang merasa lebih yakin kalau bisa melihat barang secara fisik.

Di Padang, brand Ninano memiliki tiga orang karyawan tetap. Mereka bertanggung jawab mengelola Instagram resmi brand, membuat konten kreatif, hingga melayani reseller yang tersebar di berbagai daerah. Akieno menekankan pentingnya koordinasi tim, meskipun timnya kecil. Setiap hari selalu ada rapat kecil, evaluasi, dan arahan tugas.

“Kami tetap lakukan meeting atau arahan tiap hari. Jadi semua terarah, mulai dari bikin konten, sampai urusan reseller,” kata Akino.

Sementara itu, untuk Banda Aceh, Ninano sempat memiliki karyawan di tenant yang pernah beroperasi di Plaza Aceh. Namun, melihat kondisi pasar yang fluktuatif, Akieno memutuskan menutup sementara tenant tersebut.

“Tempatnya keburu diisi tenant lain, jadi kami off-kan dulu di Aceh. Karyawan juga sementara off. Kami fokuskan lagi ke online,” ujarnya.

Meski toko fisik di Aceh tutup, penjualan untuk pelanggan Aceh tetap berjalan. Ninano memanfaatkan admin WhatsApp yang dulu pernah aktif, sehingga pesanan masih bisa dilayani cepat. Produk pun disiapkan dari stok yang memang tetap tersedia di Aceh.

Ninano tidak hanya menjual hijab ready stock. Mereka mengusung konsep yang saat itu jarang dijumpai yaitu custom hijab. Pelanggan bebas memilih motif, ukuran, hingga detail pinggiran hijab yang mau lasercut atau jahit tepi.

“Kadang orang suka motifnya, tapi nggak ada ukuran besar. Atau ukuran besarnya ada, tapi motifnya nggak suka. Kami jawab kebutuhan itu, bisa pilih motif, bahan dan ukuran sendiri. Ini yang bikin orang senang,” katanya.

Ukuran hijab Ninano bervariasi 120 cm, 130 cm, 140 cm dan semuanya menggunakan bahan premium yang sama. Untuk ukuran standar bisa dibanderol dengan harga Rp. 185.000 saja.

Meski berdiri di Padang dan Aceh, produksi Ninano tetap berbasis di Jakarta. Hal ini karena ketersediaan bahan dan teknologi printing yang sesuai standar Ninano hanya bisa dipenuhi di Ibu Kota.

“Di Aceh belum ada bahan atau mesin printing yang speknya cocok. bukan karena kita tidak mau di Aceh, cuman kita dengan spek yang seperti itu, harus benar-benar mencari yang kualitasnya bagus. Jadi sekarang masih di Jakarta,” ujar Akieno.

Dalam kondisi normal, Ninano bisa menjual hingga 1.000 hijab per bulan. Saat kondisi ekonomi lesu, angka penjualan berkisar 400–500 hijab per bulan.

Ninano tidak berdiri sendiri. Di balik distribusi produknya, ada peran reseller di berbagai kota mulai dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan. Sistemnya sederhana, reseller membeli putus dalam jumlah tertentu. Mereka bebas menjual kembali di daerah masing-masing.

“Sampai sekarang reseller kami masih aktif. Ada di Jawa, Kudus, Jakarta, Kalimantan juga pernah. Itu sangat membantu kami menjangkau pasar lebih luas,” katanya.

Di awal, Ninano tak segan menggaet nama besar untuk promosi. Artis nasional seperti Citra Kirana, istri Pasha Ungu, hingga Thoriq Halilintar yang saat itu sedang naik daun pernah digandeng untuk mengenalkan Ninano ke publik.

“Karena kita paham pada saat itu kan covid, dan kita tidak bisa memutamakan hanya pasar di lokal kita saja. Kita harus mengambil pasar seluruh Indonesia, makanya kita ambil influencer itu artis-artis. Hasilnya follower naik, penjualan juga naik,” kenang Akieno.

Nama Ninano juga sering muncul di berbagai expo, baik lokal maupun internasional. Pada 2023, Ninano jadi juara di ajang Aceh Muslim Preneur yang diadakan Bank BSI. Mereka juga rutin ikut pameran di Jakarta Convention Center (JCC).

“Total sudah lima kali ikut pameran internasional. Dari BI pernah, BSI juga pernah dua kali, baru-baru ini Juni kemarin kami ikut BSI International Expo di Jakarta. Pernah juga kirim produk ke Malaysia,” ujarnya..

Tak hanya pameran, Ninano juga memanfaatkan marketplace internasional. Beberapa kali, produk Ninano dikirim ke Malaysia lewat Shopee Global.

Bagi Akieno, tantangan terbesar Ninano adalah menjaga konsistensi dan relevansi. Dunia fashion bergerak cepat. Jika tak mau ketinggalan, brand harus peka terhadap tren dan kebutuhan pasar.

“Kami harus tetap ada di benak konsumen. Konsisten harus ada, jangan hilang-timbul. Kami tetap komunikasi dengan pelanggan seperti memakai sistem polling, biar tau selera mereka. Kalau ekonomi lagi turun, kami juga harus paham orang maunya produk seperti apa,” katanya.

Kini, Ninano tak lagi hanya menjual hijab. Mereka mulai merambah ke outer, dress, tunik, brooch, hingga parfum.

“Yang penting, kami menjual fungsi, bukan cuma nama. Fungsinya harus dapet, harganya masuk akal. Itu yang orang cari,” ujarnya.

Ke depan, Akieno ingin Ninano tetap beradaptasi dengan perkembangan pasar. Ia dan timnya akan terus mendengar kebutuhan pelanggannya.

“kita berharap kedepannya kita tetap bisa memahami konsumen, bisa memahami kebutuhannya dan seleranya, jadi kita tetap bisa menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dan mengikuti perkembangan juga,” pungkasnya. (Adv)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *