SinarPost.com – Bermula dari hobi memasak dan impian sederhana untuk membantu kebutuhan rumah tangga, kini Hamdani Abdullah (49) bersama istrinya berhasil membesarkan Nakusuka Food, usaha kuliner lokal yang memadukan cita rasa nusantara dengan sentuhan khas Aceh, hingga produknya dikenal sampai ke luar daerah, bahkan menembus pasar pameran internasional.
“Awalnya kami cuma buat serundeng dari dapur rumah. Saya dan istri sama-sama suka kuliner, jadi coba-coba bikin produk yang bisa dijual. Alhamdulillah, bisa bantu ekonomi keluarga juga waktu itu,” kenang Hamdani, pemilik Nakusuka Food yang kini telah mempekerjakan dua karyawan tetap dan beberapa tenaga freelance.
Didirikan secara resmi pada Mei 2024, bisnis ini masih tergolong muda. Namun, perkembangan dan cita-cita besarnya luar biasa.
“Target ke depan, kami ingin membangun sistem lebih kuat, rekrut SDM lebih banyak, dan yang terpenting melengkapi legalitas usaha seperti BPOM. Sekarang P-IRT sudah kami kantongi dan tempat produksi kami steril,” ujarnya dengan penuh semangat.
Nakusuka Food dikenal dengan beberapa produk serundeng unggulannya. Yang paling laris adalah Serundeng Teri kacang, disusul oleh Serundeng Bawang Goreng dan Serundeng Kelapa Temurui.
“Temurui atau daun kari itu khas Aceh. Kita angkat rempah lokal, jadi meskipun serundeng itu produk nusantara, tetap ada sentuhan Acehnya,” jelas Hamdani.
Tidak hanya rasa, Nakusuka Food juga sangat menjaga kualitas bahan baku. Meskipun harga bahan naik, Hamdani menolak untuk menurunkan standar.
“Kami tetap produksi meski margin keuntungan menipis. Karena yang kami jaga adalah kualitas. Kalau kualitas turun, kepercayaan pelanggan pun bisa hilang,” ungkapnya.
Tak sekadar dijual di toko-toko oleh-oleh lokal seperti Simpang Lima Grocery dan toko souvenir Penayong, produk Nakusuka juga telah menjangkau pasar Medan, Bener Meriah, hingga Sigli. Bahkan, tahun 2024 lalu, Nakusuka ikut serta dalam Expo MIT Pahang di Malaysia.
“Itu pameran internasional. Alhamdulillah, respon pengunjung luar negeri sangat baik. Mereka suka produk serundeng kita,” ujar Hamdani bangga.
Layaknya usaha lain, perjalanan Nakusuka Food tak selalu mulus. Hamdani mengakui, tantangan terbesar adalah ketika hasil produksi tidak sesuai ekspektasi pasar.
“Kadang kita coba pasarkan di tempat baru, ternyata nggak cocok, jadi stok numpuk. Tapi dari situ kita belajar,” katanya.
Ia pun lebih memilih sistem distribusi offline dan kerja sama dengan mitra lokal atau pembelian putus untuk reseller.
Hamdani juga terbuka dengan kerja sama sistem reseller.
“Bisa beli putus, jadi langsung bayar cash sesuai jumlah produk. Harga bisa lebih murah juga karena sistem beli putus,” ujarnya.
Untuk harga eceran di pasaran, Serundeng Trikacang dijual Rp30.000 per bungkus, sedangkan HPP (harga pokok penjualan) untuk reseller hanya Rp25.000. Serundeng Kelapa Temurui dijual Rp25.000 (reseller Rp20.000).
Meski enggan mempublikasikan angka omzet bulanan, Hamdani menyebut bisnisnya dalam kondisi stabil. Ia menekankan bahwa keberlangsungan usaha dan kepercayaan pelanggan adalah fokus utama.
“Yang penting, produk kami bisa bertahan dan terus melangkah ke depan, meskipun sedikit demi sedikit,” pungkasnya. (Adv)





