SinarPost.com – Apa yang dimulai dari kebutuhan sederhana di dapur rumah bisa menjadi langkah besar menuju panggung nasional. Irvadiarni Falka (39), seorang ibu lima anak asal Sabang, tak pernah menyangka bahwa keumamah ikan tuna kering khas Aceh yang awalnya ia olah untuk sarapan keluarga, kini telah merambah pasar nasional hingga internasional dengan nama brand-nya ‘Keumamah Cut Kak’.
Kisah Keumamah Cut Kak berawal pada tahun 2022, saat itu, Irvadiarni rutin memasak keumamah untuk sarapan anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Karena proses memasak keumamah cukup memakan waktu hingga tujuh jam, ia memilih membuat dalam jumlah besar. Sisa dari dapur rumah itu kemudian dibagikan ke tetangga dan teman-teman sekitar.
“Awalnya cuma untuk anak-anak aja, karena pagi-pagi kan repot, saya selalu sediakan keumamah dengan telur karena praktis. Sisanya saya bagi-bagi ke tetangga dan teman,” ujar Irvadiarni.
Tak disangka, banyak yang menyukainya dan mulai memesan secara pre-order. Dari sinilah Keumamah Cut Kak lahir pada tahun 2022. Tanpa rencana besar, pesanan pun berdatangan.
Tahun 2022 menjadi titik awal keumamah racikannya menerima pre-order, termasuk dari jemaah haji yang ingin membawanya sebagai oleh-oleh. Saat itu, belum ada kemasan profesional apalagi branding.
Langkah besar usahanya dimulai saat mengikuti Sabang Marine Festival 2023. Di sana, Keumamah Cut Kak meluncurkan produk keumamah dengan kemasan dan branding awal. Para pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara, mencoba produk ini dan memberikan respons positif, terutama varian original yang disukai karena tidak pedas.
“Waktu itu saya kasih tester ke para pengunjung, termasuk wisatawan asing. Ternyata mereka suka, terutama varian original yang tidak pedas. Dari situ kami mulai berani branding lebih serius. Ganti logo, buat kemasan yang mencerminkan usaha kami,” ujarnya.
Kini, Keumamah Cut Kak hadir dalam kemasan botol dan pouch travel-friendly, dengan berbagai ukuran mulai dari 80 gram hingga 500 gram. Harga produk bervariasi, dari Rp30.000 hingga Rp163.000 tergantung varian dan ukuran.
Tersedia dua varian rasa: original dan pedas. Produk ini telah menjangkau seluruh Indonesia, termasuk hingga ke Merauke. Di Banda Aceh, produknya tersedia di berbagai supermarket, hingga toko-toko souvenir.
“Ada yang pesan juga dari Merauke, karena dulu dia waktu jadi atlet PON pernah mencicipi di pameran PON Blang Padang dan dia suka akhirnya dia pesan lewat shopee. Bahkan ongkirnya juga sampe 120 ribu ke Merauke tapi tetap dia pesan karena udah pernah rasa dan suka,” ceritanya.
Pada awalnya, seluruh proses produksi dilakukan oleh Irvadiarni dan keluarganya, suami serta lima anaknya. Bahkan, anak bungsunya pun ikut memetik cabai. Kini, Keumamah Cut Kak telah memiliki tiga karyawan tetap dan dua karyawan harian tambahan saat pesanan sedang tinggi.
“Alhamdulillah sekarang kami sudah bisa membuka lapangan kerja, khususnya untuk perempuan. Karena saya juga sebagai ibu rumah tangga, jadi saya berdayakan juga ibu rumah tangga lainnya,” ujarnya dengan bangga.
Omzetnya pun menyentuh angka puluhan juta rupiah per bulannya. Omzet ini bisa melebihi angka 20 juta per bulan di musim haji dan musim liburan. Dikarenakan banyak yang memesan Keumamah Cut Kak untuk dibawa dalam perjalanan liburan dan berhaji. “Sekarang omzetnya per bulan sudah bisa mencapai 20 juta, tergantung musim,” ujar Irvadiarni.
Pada musim haji, umroh atau liburan panjang, jumlah penjualan bisa melonjak drastis. “Kalau high season karena pesanan kita juga melonjak dan omzet pun bisa naik di musim haji atau musim liburan di bulan desember,” ungkapnya.
Produksi saat ini dilakukan di ruang produksi di Sabang, sementara rumah produksi di Banda Aceh sedang dalam proses penyelesaian. Rumah produksi baru ini dirancang sesuai standar HASAP dan BPOM, guna memenuhi syarat ekspor dan legalitas yang lebih tinggi dari sekadar PIRT dan label halal reguler. (Adv)





