Bitata Food, Pelopor Bawang Goreng Kemasan Botol Bersertifikat Halal di Aceh.

Salah satu produk Bitata Food.

SinarPost.com – Nama besar Bitata Food tak lahir dari rahim warisan orang tua, tapi datang dari perjuangan jatuh bangun melalui tangan kreatif Anshar Zulhelmi yang merupakan owner Bitata Food

Beberapa waktu lalu, Anshar berkisah kepada media bahwa pada suatu ketika ia berjalan dari toko ke toko dengan harapan sederhana: menjual lima bungkus bumbu nasi minyak. Namun hingga waktu Asar tiba, tak satu pun yang laku.

Read More

Dengan hati sedih, ia melangkah ke Masjid Oman. yang berada di Lampriet, Kota Banda Aceh. “Ya Allah, lima bungkus ini tidak laku. Tolong bantu aku,” lirihnya dalam doa.

Kini, nama Anshar dikenal sebagai pendiri Bitata Food, UMKM kuliner asal Aceh yang menembus omzet ratusan juta rupiah per bulan. Namun perjalanannya tak semudah membuka tutup botol produk yang kini tersebar hingga luar Aceh.

Pada Maret 2025 lalu, Anshar berbagi kisah kepada Bisnisia.id perjalanan bisnisnya. Kami bertemu di rumah produksi di Desa Lampeunyerat, Kota Banda Aceh.

Lulusan Pondok Modern Darussalam Gontor ini sempat melanjutkan studi S2 di International Islamic University Islamabad, Pakistan. Ia bahkan bercita-cita meraih gelar doktor. Namun takdir berkata lain. Ayahnya meninggal pada akhir 2016, dan ibunya memintanya pulang.

Februari 2017, Anshar kembali ke tanah air. Ia mengajar di beberapa lembaga pendidikan, namun penghasilan tak cukup untuk menopang hidup jangka panjang.

Setelah mencoba berjualan kue dari ketela yang kurang laku, Anshar beralih pada bumbu nasi minyak—resep warisan neneknya. Produk itu ia kemas dalam botol dan tawarkan dari rumah ke rumah. Sebulan, hanya satu atau dua botol terjual.

Titik balik datang saat ia menghadiri seminar bisnis di Hotel Mekah, Banda Aceh. Di sana ia bertemu Ratu Nur Anissa, yang kelak menjadi istrinya dan partner bisnisnya. Ratu, dengan latar belakang bisnis kuliner, membantu Anshar menata ulang strategi.

Bitata Food Lahir

Setelah menikah pada 2018, keduanya mendirikan Bitata Food. Awalnya fokus pada bumbu nasi minyak, pelanggan kemudian meminta produk lain—bawang goreng, misalnya. Mereka pun menjadi pelopor bawang goreng kemasan botol bersertifikat halal di Aceh.

Masuknya pandemi COVID-19 justru membawa berkah. Penjualan online melalui Instagram dan WhatsApp melesat dari puluhan menjadi ribuan botol per bulan.

Anshar Zulhelmi, Owner Bitata Food.

Bitata Food terus berinovasi. Pada 2022 mereka meluncurkan nasi minyak siap makan dan menggandeng restoran untuk memperluas distribusi tanpa membuka cabang.

Namun ekspansi ke Jakarta, Bandung, dan Jogja sempat tersendat. Distributor bermasalah, barang menumpuk, dan arus kas terganggu. Dari pengalaman itu, Anshar dan Ratu kembali fokus ke penjualan harian dan produk yang lebih stabil.

Mereka juga memberdayakan warga sekitar—terutama ibu rumah tangga—untuk mengupas bawang, menciptakan dampak sosial di komunitas lokal.

Kini Bitata Food memiliki 31 karyawan dan omzet bulanan Rp 80–150 juta. Produk mereka telah menyentuh ribuan pelanggan di seluruh Indonesia. Mimpinya? Membuka cabang nasional dan memberdayakan lebih banyak orang.

“Ketika berusaha, yakinlah Allah melihat,” pesan Anshar. “Mungkin hari ini hanya satu botol yang laku, tapi esok bisa jadi ribuan.”

Bitata sendiri adalah akronim dari “Biar Tambah Takwa.” Sebuah nama sederhana, yang merekam cita-cita besar seorang anak Aceh untuk berdiri di antara bisnis dan keberkahan. (Adv)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *