Iran Tantang Trump, Hargai Hak Nuklir atau Perang

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

SinarPost.com – Pemerintah Iran menolak keras tuntutan Presiden Amerika Serika (AS) Donald Trump untuk melepaskan sepenuhnya kapasitas pengayaan uranium nuklir meski di bawah ancaman perang.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi dengan tegas menyampaikan bahwa negaranya akan mempertahankan martabat nasionalnya dengan tetap memperkaya nuklir untuk tujuan sipil, bahkan siap berperang – merujuk pada ancaman Trump yang akan menyerang Iran jika negosiasi batal membuahkan kesepakatan.

Read More

Presiden AS Donald Trump telah menuntut agar Iran menyetujui kebijakan “pengayaan nol” atas uranium Iran.

Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut pada Kongres Nasional tentang kebijakan luar negeri Republik Islam Iran di Teheran pada Minggu (8/2/2026). Ia menyebut bahwa pengayaan uranium sebagai hak hukum yang berakar pada kedaulatan dan martabat nasional.

“Mengapa kita begitu gigih menginginkan pengayaan (uranium) dan terus melakukannya, dan mengapa kita tidak mau melepaskannya, bahkan jika perang dipaksakan kepada kita? Karena tidak seorang pun berhak memberi tahu kita apa yang seharusnya kita miliki dan apa yang seharusnya tidak kita miliki,” kata Araghchi.

Namun, Araghchi menambahkan bahwa Iran terbuka untuk mengatasi kekhawatiran terkait program nuklirnya dan membangun kepercayaan dalam hal tersebut.

“Jika ada pertanyaan atau ambiguitas mengenai tujuan damai dari program nuklir Iran, kami akan menanggapi dan menghilangkan ambiguitas tersebut, dan satu-satunya cara adalah melalui diplomasi,” katanya.

Ia melanjutkan dengan mengatakan bahwa serangan AS dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran Juni tahun lalu gagal memberikan hasil yang diinginkan, karena ilmuan Iran telah menguasai sepenuhnya tentang teknologi nuklir.

“Pengetahuan tidak bisa dihancurkan dengan bom. Pengeboman dapat menghancurkan bangunan, tetapi teknologi tidak dapat dihancurkan,” kata Araghchi, menambahkan bahwa ini adalah pesan yang ia sampaikan kepada AS selama pembicaraan tidak langsung baru-baru ini di Oman.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *