AS Belum Siap Menyerang Iran, Incar Kesepakatan Nuklir dengan Teheran

SinarPost.com – Amerika Serikat (AS) dilaporkan belum siap menyerang Iran karena kekurangan sistem pertahanan udara untuk dapat menangkis pembalasan militer Iran, demikian laporan Wall Street Journal (WSJ) mengutip pejabat Amerika yang tidak disebutkan namanya.

Seperti diketahui, selama beberapa minggu terakhir, Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan armada perang dalam skala besar ke Timur Tengah yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln, untuk mengancam aksi militer ke Teheran dengan dalih penindakan keras rezim Iran terhadap demonstran yang terjadi pada Januari-Februari lalu dengan merenggut ribuan korban jiwa.

Teheran menegaskan, penumpasan tersebut dilakukan terhadap kelompok ekstrimisme yang disponsori pihak asing (Amerika dan Israel) yang menciptakan kekacauan, kerusakan, hingga pembakaran terhadap berbagai fasilitas publik mulai dari mobil, perkantoran, hingga Masjid.

Alih-alih ancaman serangan terhadap Iran dengan dalih penindakan keras terhadap demonstran, kini dalih Washington meluas terhadap pengayaan uranium nuklir dan program rudal balistik Teheran. Presiden AS Donald Trump meminta Theran menerima kesepakatan nuklir baru.

Meskipun telah mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke Timur Tengah, namun serangan udara Amerika terhadap Iran tampaknya tidak akan segera terjadi karena Washington belum siap menghadapi serangan balasan Iran, dan belum mampu memberikan perlindungan yang aman terhadap Israel, sekutu Arabnya, dan pasukan AS di kawasan tersebut, lapor Wall Street Journal dalam sebuah artikel pada Minggu (1/2/2026).

Pentagon saat ini sedang memindahkan baterai Thaad dan sistem pertahanan udara Patriot tambahan ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer  yang menampung pasukan Amerika di Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, Qatar, dan tempat lain, kata para pejabat pertahanan AS kepada media tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan pada hari Minggu bahwa tindakan militer AS apa pun akan memiliki konsekuensi yang luas, tidak hanya terhadap asset militer AS tapi juga di seluruh Timur Tengah. Khamenei mengatakan “mereka harus tahu bahwa jika mereka memulai perang kali ini, itu akan menjadi perang regional.”

Harapan Kemajuan Perundingan Nuklir

Seiring dengan sikap Presiden Amerika Donald Trump yang mengurangi retorika ancaman perang dengan membuka keran jalur diplomasi, Iran menyambutnya dengan nada postif. Teheran mengatakan bahwa mereka siap melangkah ke jalur diplomasi untuk memulai kembali perundingan nuklir dengan Amerika Serikat.

Pada Senin (2/2/2026) Iran menyampaikan bahwa mereka sedang meneliti beberapa proses diplomatik yang diajukan oleh negara-negara perantara di kawasan itu untuk meredakan ketegangan dengan Washington, dan menambahkan bahwa mereka mengharapkan kerangka kerja untuk pembicaraan dalam beberapa hari mendatang.

Pengumuman ini muncul ketika Teheran dan Washington tampaknya menarik diri dari ancaman aksi militer. Kantor berita Reuters, mengutip pejabat Iran dan AS yang tidak disebutkan namanya, mengatakan Teheran dan Washington akan mengadakan pembicaraan pada hari Jumat mendatang di Istanbul, Turki, yang akan dihadiri oleh Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

Kantor berita AFP mengutip seorang pejabat regional yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa “pertemuan potensial” kemungkinan akan berlangsung pada hari Jumat di Istanbul berkat diplomasi yang melibatkan Turki, Qatar, Mesir, dan Oman.

Trump sendiri telah menyampaikan bahwa AS sedang berbicara dengan Iran. Sementara Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, kini telah mengkonfirmasi bahwa negosiasi tidak langsung sedang berlangsung melalui keempat negara perantara tersebut.

“Negara-negara di kawasan ini bertindak sebagai mediator dalam pertukaran pesan,” demikian kata Esmaeil Baghaei pada Senin kemarin tanpa memberikan rincian tentang isi negosiasi tersebut.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *