NA Pia, Kue Tradisional yang Bertahan di Tengah Geliat Usaha Cemilan Modern

SinarPost.com – Di era camilan viral serba kekinian yang datang dan pergi secepat tren TikTok, Raudhatul Jannah (29) punya keyakinan lain, kue tradisional pun bisa bertahan, asalkan dirawat dengan cara yang tepat. Keyakinan itulah yang kini menjelma menjadi NA Pia, usaha bakpia warisan orang tuanya yang justru tumbuh di tangannya dengan caranya sendiri.

“Awalnya orang mikir, siapa sih yang mau makan bakpia? Itu kan kue orang tua,” cerita Raudhatul saat dijumpai di dapur produksi sederhana di kawasan Lieue, Tungkop, Aceh Besar.

Read More

Usaha keluarga ini memang bukan pendatang baru di meja makan orang Aceh. Didirikan sang ayah pada 1989, awalnya usaha ini memproduksi berbagai kudapan jadul, seperti kacang gongseng, roti selai yang mungkin akrab di lidah generasi 90-an hingga kue bintang yang sering jadi suguhan di rumah duka. Produksi berpindah ke tempat sekarang sejak 1999, dengan pia sebagai salah satu produk yang muncul di antara aneka roti dan kue.

Namun di tengah geliat usaha makanan modern, perlahan sekitar tahun 2008 produk lain menghilang hanya kue pia yang tetap bertahan, meski pasarnya pun naik turun.

Raudhatul sendiri merupakan lulusan S1 dan S2 Bahasa Arab. Setahun belakangan, panggilan untuk membenahi warisan orang tua itu datang.

“Waktu itu saya lihat, masa iya pia ini enak tapi cuma dititip di kios? Orang nggak bisa nyari, brandingnya pun nggak jelas. Kalau nggak dipegang, bisa-bisa hilang,” kenangnya.

Ia pun mulai dari dasar, menambah nama Na Pia yang dalam Bahasa Aceh ini berarti Ada Pia. Roti Abadi 89 tidak dihapus karena ini merupakan identitas usaha turun temurun dari orang tuanya.

“Saya nggak bisa jualan bakpia tapi namanya Roti Abadi, nggak sesuai. Jadi saya bilang ini kayaknya ganti aja lah namanya. Kalau namanya masih ‘roti abadi’ orang bingung, ini roti apa pia? Jadi saya putuskan rebranding total, warnanya pun beda.”

Ia pilih warna toska, melawan arus warna hijau-kuning yang lekat pada kemasan bakpia umumnya. Sadar betul, produk harus tampil beda jika ingin melekat di ingatan pembeli.

Tantangan pertama Raudhatul adalah meyakinkan pasar bahwa kue pia tetap relevan. Ia menolak menjual pia dengan sistem titip jual yang membuat rasa jadi turun. Ia lebih memilih jalur distribusi langsung, kolaborasi dengan rekan ayahnya di Aceh Barat, dan membuka kontainer gerai sendiri di Batoh dan Lamnyong.

“Paling rendah kita kirim itu sekitar 80 cup besar isi 25 pcs. Jadi pasar terbanyak kita bisa dibilang itu di daerah Aceh Barat. Kalau disini kita Cuma buka kontainer di Batoh dan Lamnyong agar pembeli itu ngga perlu jauh-jauh datang kesini,” ungkapnya.

Raudhatul Jannah, owner NA Pia.

Di bulan Ramadhan, ketika stok kue pia menumpuk di gudang, Raudhatul memutuskan eksperimen berjualan via online. “Daripada basi, saya jual harga pabrik di online. Sekitar 350 kue pia ludes dalam dua hari. Dari situ ternyata kue pia ini masih dicari dan diterima konsumen,” jelasnya.

Pelanggan tak hanya orang tua. Varian baru seperti cokelat keju justru diserbu anak muda. Meski sempat gagal total tekstur keras membuatnya tak layak jual Raudhatul pantang menyerah. Ia berbulan-bulan bereksperimen ulang sampai resepnya pas.

“Kaget juga, bapak-bapak pun sekarang banyak beli pia cokelat. Saya kira Cuma gen Z yang suka sama varian coklat ternyata banyak peminatnya. Sekarang coklat itu bestseller,” ujarnya.

Baginya, kunci bertahan bukan sekadar rasa, tetapi cara merawat kepercayaan pelanggan. Kue pia Napia dijual satuan, hanya seribuan rupiah, siapapun bisa beli sesuai isi dompet. Promo dibuat sewajarnya, tidak berlebihan agar pembeli tidak terlena atau mengira bahan pia murahan.

“Kami nggak mau bikin orang berat di dompet. Biar orang yang cuma bawa 3 ribu pun bisa beli,” ucap Raudhatul.

Produksi pun kini melonjak. Jika dulu rata-rata 3.000 biji per hari, kini Napia mampu memproduksi 6.000 hingga 10.000 pia setiap hari. Di momen ramai seperti Lebaran, pesanan bahkan tembus 12.000. Semua dikerjakan 8 pekerja, sebagian besar ibu-ibu sekitaran tempat produksi yang turut terbantu penghasilannya.

Di matanya, kue pia tak sekadar camilan jadul ia berharap ke depan kue Napia semakin dikenal luas dan menjadi salah satu oleh-oleh khas yang bisa dibeli langsung di tempat produksi. Ia bermimpi agar pabriknya dapat menjadi tujuan wisata, sehingga orang bisa berkunjung sekaligus berbelanja langsung di lokasi.

“Harapan saya, pabrik ini bisa jadi tempat visit, orang bisa langsung belanja ke sini. Jadi salah satu tempat wisata. Tapi sebelum itu, saya ingin Napia lebih dikenal dan disayang banyak orang,” ujarnya.

Target pasarnya bukan hanya mengejar tren kue yang viral atau sekedar FOMO, tetapi bagaimana mempertahankan pelanggan agar tetap loyal meskipun tren berlalu.

“Kalau cuma viral kan habis itu bisa hilang ya. Saya mau orang beli Napia nggak cuma ikut-ikutan, tapi ketagihan dan datang lagi,” pungkasnya. (Adv)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *